
Saat melihat
kata-kata pulau sampah, mungkin hal pertama yang muncul di pikiran beberapa
orang adalah pulau yang tertimbun sampah atau gundukan sampah yang padat dan
bisa dipijaki. Namun, untuk Great Pacific Garbage Patch bayangan itu
tidak akurat. Great Pacific Garbage Patch (GPGP) bukanlah
daratan padat, melainkan sebuah hamparan limbah luas yang mengapung di Samudra
pasifik.
Area laut tempat
GPGP berada dikelilingi oleh Pusaran Pasifik Utara (North Pacific Gyre), sebuah
jaringan arus laut raksasa yang berputar searah jarum jam. Arus ini menarik
plastik dan limbah lainnya dari pesisir pantai di seluruh dunia ke pusat
alirannya, memindahkannya melintasi samudra.
GPGP terbagi
menjadi dua area utama: Western Garbage Patch yang berada di dekat Jepang dan
Eastern Garbage Patch yang terletak di antara California dan Hawaii. Walau
sampah dapat berpindah antara dua area GPGP ini seiring waktu, sampah tersebut
kemungkinan besar tidak akan lolos dari arus berputar ini. Arusnya yang kuat
memastikan sampah yang telah masuk tidak akan lolos secara alami ke samudra
lepas.
Keberadaan GPGP
pertama diprediksi dalam tulisan yang diterbitkan oleh National Oceanic and
Atmospheric Administration (NOAA) pada tahun 1988. Tulisannya didasarkan
pada penelitian beberapa peneliti yang berbasis di Alaska yang mengukur plastik
neustonik di Samudra Pasifik Utara. Para peneliti menemukan konsentrasi limbah
yang relatif tinggi terakumulasi di wilayah yang diatur oleh arus laut. Dengan
temuan ini, para peneliti berhipotesis bahwa kondisi serupa akan terjadi di
bagian lain pasifik yang memiliki arus dominan.
Pada tahun 1997,
eksistensi prediksi ini ditemukan oleh Charles J. Moore, yang sedang pulang
melalui Pusaran Pasifik Utara setelah berkompetisi dalam Lomba Layar
Transpasifik. Moore telah menemukan hamparan limbah terapung yang sangat besar
dan memberitahu ahli oseanografi Curtis Ebbesmeyer, yang kemudian menamai
wilayah itu sebagai Eastern Garbage Patch.
Ukuran hamparan
sampah ini tidak bisa 100% pasti. Distribusi limbah di GPGP tidak sama rata dan
benda-benda besar jarang ditemukan, sebagian besar limbah ini terdiri dari
partikel-partikel berukuran tidak lebih besar dari kuku jari sampai mikroskopik
(mikroplastik) yang tersuspensi di bawah permukaan laut, sehingga tidak
terdeteksi oleh pesawat atau satelit. Karena itu, perkiraan ukuran GPGP
ditentukan menggunakan sampling.
Peneliti dari
proyek Ocean Cleanup memperkirakan bahwa saat tahun 2018, GPGP meliputi 1,6
juta kilometer persegi (620.000 mil2) yang terdiri dari
45.000129.000 metrik ton plastik. Dari ribuan metrik ton plastik ini,
ditemukan barang-barang yang sangat beragam. Dari barang-barang seperti botol
air, sikat gigi, pulpen, mancis, hingga jaring ikat besar, dan lain-lainnya.
Bahkan benda-benda yang diproduksi (dan dibuang) lebih dari 50 tahun lalu bisa
ditemukan, menunjukkan betapa sulitnya plastik terurai secara alami.
Limbah ini
berasal dari negara-negara di sepanjang Lingkar Pasifik. Sebuah studi
melaporkan bahwa limbah yang mengapung ke Eastern Garbage Patch
bersumber dari negara-negara Asia terutama dari enam negara: Cina, Indonesia,
Filipina, Vietnam, Sri Lanka, dan Thailand. Pada tahun 2017, Ocean
Conservancy melaporkan bahwa Cina, Indonesia, Filipina, Thailand, dan
Vietnam membuang lebih banyak plastik ke laut daripada gabungan semua negara
lain akibat sistem pengelolaan sampah yang belum memadai di daratan.
Masalah yang
disebabkan oleh GPGP bukan hanya laut yang kotor, GPGP menjadi ancaman bagi
rantai makanan. Hewan laut seperti penyu seringkali salah mengira kantong
plastik sebagai ubur-ubur, sementara burung laut menganggap partikel plastik
berwarna-warni sebagai telur ikan atau ikan. Hal ini menyebabkan kematian
massal hewan-hewan akibat penyumbatan saluran pencernaan dan kelaparan.
Mikroplastik yang
mengapung di permukaan dan di bawah permukaan laut menghalangi sinar matahari
untuk mencapai plankton dan alga di dalam laut. Jika organisme ini terganggu,
seluruh ekosistem laut akan runtuh.
Membersihkan GPGP
bukanlah hal yang mudah. Jika hanya menggunakan kapal konvensional untuk
menjaring sampah, akan memakan waktu ratusan tahun dan biaya miliaran dolar.
Namun, organisasi seperti The Ocean Cleanup telah mengembangkan sistem
penghalang pasif bertenaga arus laut untuk mengumpulkan sampah secara otomatis.
Meskipun
teknologi pembersihan laut terus maju, kunci utama untuk menghentikan terusnya
menumpuk sampah di GPGP adalah menghentikan aliran sampah dari sumbernya. Tanpa
perubahan kebijakan dalam penggunaan plastik sekali pakai dan perbaikan sistem
manajemen sampah di daratan, Great Pacific Garbage Patch akan terus tumbuh,
mengancam kesehatan planet kita untuk generasi yang akan datang.